Skip to main content

Posts

Kontan, Dari Tabloid ke Harian

Jika kita sebut Kontan, pasti pikiran kita langsung tertuju ke Tabloid Kontan. Pertama terbit kalau tidak salah di awal tahun 90an, dan menurut saya merupakan tabloid pertama di Indonesia yang khusus membahas ekonomi. Media khusus ekonomi mungkin banyak, tapi dalam bentuk tabloid, saya rasa Kontan lah pelopornya. Bisa disebut bahwa Tabloid Kontan dilahirkan oleh Harian Kompas. Meskipun tidak secara langsung, kebetulan karena kedua media tersebut dibawah KKG. Saya sebut tidak langsung karena berbeda dengan Tabloid Bola, yang awalnya merupakan sisipan olah raga di Harian Kompas setiap hari Jum’at. Yang kemudian terbit mandiri. Dan sekarang, tepatnya sejak 26 Februari 2007, Tabloid Kontan ini melahirkan media yang berbasis harian dengan nama yang tidak berubah. Tampilan sekilas hampir sama dengan saudara kandungnya, Kompas, terutama warna biru pada tulisan Kontan. Menurut saya, masuknya Tabloid Kontan ke Harian, karena melihat besarnya pasar koran ekonomi yang selama ini dinikmati sendiri...

Hijrah

Beberapa hari yang lalu, saat akan berangkat ke kantor, secara tidak sengaja ketemu dan ngobrol sama tetangga. Namanya Ibu Ana. Diantara tetangga yang lain, di salah satu yang istimewa. Beliau berprestasi sejak di bangku sekolah. Bahkan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri tanpa test. Dan berlanjut hingga saat mencari pekerjaan. Denger-denger, dia bekerja di salah satu bank asing paling prestisius di Indonesia. Saya pikir wajarlah kalau dia sukses berkarir di situ. Maklum, kalau dilihat dari track recordnya kan sudah menunjukkan prestasi yang menonjol sejak kecil. Cuma, beberapa minggu terakhir ini, beliau setiap hari terlihat di rumahnya. Bahkan pada saat jam-jam kantor. Saya tanya, “lho bu kok nggak kerja? Libur?“ “Nggak kok. Saya sudah nggak kerja lagi.” “Ah yang bener bu..” “bener! Saya kan sudah 40 tahun lebih” Saya pikir, bukannya life begin at forty? Kok malah resigned sih? Anak yang paling gedhe sudah SMP, adiknya SD. Kan lagi butuh biaya? “Sudah 15 tahun lebih lho ke...

Pindah kerja? Pertimbangkan dulu yang ini ...

Anda sedang mencari pekerjaan? Apa yang anda pertimbangkan? Gaji? Tunjangan kesehatan? Tidak salah anda mempertimbangkan hal itu. Tapi, saya kira anda perlu mempertimbangkan hal-hal yang lain. Contohnya ada di bawah ini ... 1. Jarak antara kantor dengan rumah. Jika naik angkutan umum, berapa kali ganti. Jika naik motor, pertimbangkan berapa liter yang anda habiskan dan seberapa kuat anda menempuh perjalanan itu. Berapa ongkos yang dikeluarkan. Bandingkan dengan gaji dan tunjangan yang diterima. 2. Fleksibilitas Jam Kerja. Bisa diartikan begini, anda bisa memilih jam kerja yang anda inginkan. Jika jam kerja normal, 9-6. Bisakah kita memilih 8-5, atau 7-4 misalnya. Lumayankan bisa menghindari jam-jam macet. 3. Toleransi atasan. Maksudnya begini, hidup kita nggak seluruhnya buat kantor dong. Misalnya, tiba-tiba anak sakit. Atau keperluan mendadak yang lain. Ada kantor atau atasan yang susah sekali ijinnya. Mungkin saja dikasih, tapi dipotong cuti. Ya, gpp sih, resikonya pas lebaran cut...

Republik Blog 1st Anniversary

Hari ini, 13 Februari 2007, genap satu tahun lalu saya posting pertama di blog ini. Sebenarnya ini bukan blog pertama saya. Ada beberapa blog yang sudah saya buat, dengan berbagai macam tema dan di berbagai macam blog hosting, tapi blog ini lah yang paling konsisten saya update. Dorongan itu muncul setelah saya bingung mau membikin blog semacam apa. Sebelumnya saya sempat membuat blog yang isinya masalah personal, tapi saya kurang suka dengan mengungkapkan urusan pribadi ke publik. Jadi, akhirnya saya buat blog sebagai tempat untuk menuangkan pikiran atau komentar atas segala hal yang saya temui, lihat, dan dengar. Makanya saya sebut Republik Blog. Jadi isinya ya gado-gado. Apa sih untungnya punya blog? Coba bayangkan dihadapan anda ada sebuah gelas kosong, dan kemudian gelas itu diisi air hingga penuh. Setelah penuh, ternyata proses pengisian gelas itu masih berlanjut. Apa yang terjadi? Air itu tumpah bukan? Begitu juga dengan saya, atau mungkin juga anda. Saya yakin setiap hari kita ...

Iklan Terbalik di Republika

Mungkinkah ini suatu kesengajaan? Kalau tidak, sungguh disayangkan, koran sekelas Republika memasang iklan terbalik pada hari Jum'at 9 Februari 2007 di halaman 18.

Hikmah Banjir

Banjir kali ini membawa hikmah tersendiri. Karena, dimana-mana Jakarta terendam banjir, pilihan terbaik adalah tinggal di rumah. Kebetulan hari itu adalah Sabtu (3 Feb 2007). Biasanya istri saya masuk kerja. Tapi, berhubung keadaan seperti sekarang ini, akhirnya dia memutuskan untuk tidak masuk kerja. Jadilah kita bisa kumpul komplit di rumah. Satu hal yang agak sulit terjadi di hari Sabtu. Kami biasanya di akhir minggu hanya bisa berkumpul bertiga saat malam Minggu hingga Minggu malam. Atau Week End Parents alias jadi orang tua saat weekend doang. Kasihan juga sih anak kami. Tapi ya, itulah pilihan yang kami pilih saat ini. Entah nanti. Banyak hal menarik saat bisa bersama dengan anak saya yang berusia 2 tahun selama seharian penuh. Tingkahnya yang menggemaskan, dan terutama kosa katanya yang semakin banyak. Ceritanya begini, Alhamdulillah anak saya tidak suka melihat TV. Acara TV yang menjadi favoritnya dia saat ini hanyalah Adzan Maghrib di SCTV yang menampilkan Ustads Jeffry Al Buc...

Ada Apa Dengan Cinta dan In the Line of Fire

Beberapa tahun lalu, saat nonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) di televisi (saya sudah lama tidak nonton film di bioskop), ada satu adegan yang bikin penasaran. Yakni saat Nicholas Saputra (NS) dan Dian Sastrowardoyo (DS) pergi ke toko buku di daerah Kwitang. Mereka berdua kemudian berbincang dengan Gito Rollies (GR), si pemilik toko buku. Setelah itu ada sedikit pertengkaran antara NS dan DS. Ujung-ujungnya si DS ini meninggalkan NS dan GR. Si GR ini bilang ke NS, kalau si DS sempat nengok lagi, berarti cewek itu suka sama NS. Dan setelah beberapa saat, yap ... nengoklah si cewek ini ke arah NS dan GR. Ya, adegan itulah yang bikin saya penasaran. Saya ingat sekali ada film dengan adegan yang sangat mirip dengan adegan tersebut. Cuma saya lupa apa judul film itu. Setelah beberapa tahun, barulah saya tahu jawabannya setelah film itu diputar di Trans TV baru-baru ini. Film itu adalah In The Line of Fire . Dibintangi oleh Clint Eastwood dan Rene Russo. Adegan itu mengambil tempat di t...