Skip to main content

Posts

Kuda Troya Itu Bernama Djohar Arifin Husin

Di mitologi Yunani, istilah Kuda Troya muncul saat terjadinya Perang Troya antara Kerajaan Troya dan Pasukan Yunani. Sejatinya Kuda Troya adalah sebuah Kuda raksasa terbuat dari kayu, yang ditinggalkan begitu saja oleh pasukan Yunani di pinggir kota Troya. Pasukan Yunani berpura-pura kalah karena sudah bertahun-tahun menyerang Kerajaan Troya dan gagal menaklukkannya. Dan Kuda Troya itu tadi tidak sekedar Kuda Kayu Raksasa, tetapi didalamnya diisi sejumlah pasukan Yunani.  Melihat pasukan Yunani yang mundur teratur, Pasukan Troya bergembira dan segera menarik Kuda Troya tadi masuk ke Kota Troya. Malang tak dapat di tolak. Di saat mereka lengah, tentara Yunani yang disusupkan tadi berhasil membuka pintu gerbang kota Troya yang membuat Pasukan Yunani berhasil masuk dan memporak-porandakan Kota Troya. Dan mereka menang perang. Analogi Kuda Troya diatas, persis seperti peran yang dimainkan Djohar Arifin Husin di konflik PSSI sekarang ini. Djohar Arifin Husein menjadi soso...

Saat Sepakbola Tidak Menarik Lagi

Indonesia bisa dinobatkan negara yang paling sering menyelenggarakan Kongres Federasi Sepakbola [PSSI]. Dalam 2 tahun ini tercatat ada 10 kali yang konon namanya Kongres baik itu Federasi Resmi maupun yang mengaku resmi [KPSI]. Majukah Sepak Bola Indonesia? Tidak. Justru membuat sepakbola Indonesia menjadi semakin tidak menarik. Indah seandainya headline media tentang sepak bola adalah Juaranya Timnas Indonesia entah di level Asia Tenggara atau mungkin Asia. Sayang terjadi sebaliknya. Konflik, saling klaim, kudeta antar pengurus lebih mendominasi berita media. Kemana Pembinaan Usia Dini? Kompetisi yang sehat dan JUJUR ? Belum lagi berita pemain bola yang belum digaji meski kompetisi sudah selesai. Bahkan ada pemain asing sakit, dan tidak mendapat perawatan yang selayaknya yang berakhir kematian. Untuk pulang ke negaranya pun dia tidak mampu. Entah sampai kapan carut marut sepakbola Indonesia imi berlangsung. Padahal disaat yang sama, anak-anak Indonesia rame-rame berlatih dan be...

When IMAGE is more IMPORTANT than REALITY

Ungkapan yang jadi judul tulisan ini, "When Images is more Important than reality" saya kutip dari kultwitnya @fahrihamzah, seorang legislator dari PKS, tentang fenomena pencitraan akhir-akhir ini. Pencitraan seperti menjadi kosa kata baru, terutama saat SBY berhasil terpilih menjadi Presiden. Kenapa SBY? Konon Presiden kita ini sangat peduli dengan citra diri baik itu pesona fisiknya, citra pemerintahan, dan partainya. Sebuah pencitraan tidaklah sebuah kesalahan saat apa yang dicitrakan itu merupakan pantulan dari kenyataan. Orang akan melihat pencitraan seperti memandang sebuah kotak kaca yang berisi perhiasan. Sebuah kotak yang berisi sebuah keindahan yang nyata, bukan kamuflase, bukan pula citra semu. Tetapi sayang, perjalanan pencitraan sekarang menuju ke arah yang sebaliknya. Pencitraan menjadi jauh lebih penting dibandingkam mewujudkan kenyataan  indah yang sebenarnya. Perjalanan buruk pencitraan seperti sebuah virus komputer yang merajalela tak terkendali di set...

Menebak Kebijakan Menpora, Menyelesaikan Konflik Sepakbola

Roy Suryo yang bernama lengkap Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo, hari Jumat 11 Januari 2013 ditunjuk menjadi Menteri Pemuda dan Olah Raga menggantikan Andi Alfian Malarangeng yang mengundurkan diri karena menjadi tersangka di kasus Hambalang. Bukan Roy Suryo kalau tidak memantik kontroversi. Latar belakangnya sebagai Sarjana Komunikasi di Universitas Gajah Mada, dan rekam jejaknya selama ini [ http://id.wikipedia.org/wiki/Roy_Suryo ] tidak pernah bersentuhan dengan dunia sepakbola, dimana menjadi isu panas akhir-akhir ini. Menarik rasanya menebak arah kebijakan menpora baru ini untuk mengatasi Kudeta Sepakbola yang sudah berlangsung hampir setahun terakhir ini. Berikut ini beberapa pernyataan Roy Suryo mengenai permasalah sepak bola Indonesia: Intervensi : "Bahkan, demi menyelesaikan kemelut organisasi sepak bola yang menurut FIFA hanya ada satu di setiap negara, Roy berjanji akan melakukan intervensi sekalipun risikonya Indonesia di- banned F...

Prof Djohar Arifin, sudahlah....

Siapakah Djohar Arifin? Sejujurnya saya tidak pernah mendengar namanya kecuali saat dia behasil menjadi Ketua PSSI menggantikan Nurdin Halid. Walaupun kata orang, Sang Profesor ini sudah berganti berbagai macam profesi, mulai dari pemain bola, wasit, dosen, hingga di Kementrian Pemuda Olahraga, tapi ya baru tahu saat dia menang. Dikalangan lingkungan PSSI dan aktivis sepakbola, Prof Djohar ini terkenal dengan julukan "Mbah Maridjan", maklum sosok Prof Djohar dengan rambut ubannya mengingatkan kita ke juru kunci Gunung Merapi ini.  Banyak harapan tertumpu kepadanya. Bagaimana tidak, dia didukung kubu revolusi sepakbola Indonesia yang sudah sangat gerah dengan kondisi  sepakbola Indoneaia yang rusak parah.  Dan yang ditumbangkan tidak main-main, kubu status quo yang didukung mafia sepakbola yang sudah mengakar kuat di sepakbola Indonesia. Tidak usah diragukan lagi sholat lima waktunya Prof Djohar. Pernah saat acara buka bersama di Griya Jenggala, saat sudah masuk wakt...

Nil Maizar, Dari Tanah Palestina Ke Kuala Lumpur

Tanah Palestina yang sedang bergejolak, telah lama melahirkan pejuang-pejuang sejati. Anak-anak Palestina bersenjatakan batu, dengan gagah berani melawan tank-tank Israel. Tak hanya anak-anak, wanita Palestina dikenal sebagai wanita yang telah melahirkan jutaan pejuang dan syuhada. Tidak sedikit dari mereka ikut berjuang di garis depan, bersama anak dan suami. Dari tanah para pejuang itulah Nil Maizar, menuliskan sejarah awal kepelatihannya di Tim Nasional Indonesia, bersama anak-anak muda bangsa Indonesia yang juga sebagian besar dari mereka baru merasakan kebesaran Jersey berlambangkan Burung Garuda. Bukan nama besar yang mereka miliki, tapi kebesaran semangat dan kesucian hati untuk menegakkan nama Indonesia di bumi para pejuang. Nil Maizar itu ibarat jenderal perang yang tengah membawa pasukan untuk menegakkan panji-panji kebesaran bangsa. Kalimat-kalimat yang keluar dari seorang Nil Maizar, ibarat bahan bakar yang membakar semangat Timnas untuk tetap dalam kebersamaan, keikhla...

Good Bye KL, We'll be back to WIN !! #AFF2012 (5-habis)

Sudah hampir sejam berlalu sejak peluit panjang dibunyikan, kami masih tertahan di luar Stasiun Bukit Jalil. Antrian token sementara ditutup karena antrian sudah panjang mengular untuk naik ke LRT. Kami semua terdiam, sudah tidak ada gairah untuk diskusi mengenai jalannya pertandingan tadi.  Hanya perasaan kesal, lelah, dan entahlah..semua jadi satu. Seakan jadi misteri, kenapa Timnas Indonesia susah sekali mematahkan dominasi Harimau Malaya di Bukit Jalil ini. Meskipun kita pernah mengalahkan mereka di GBK saat final Aff 2010 2nd leg, tapi rasanya dendam ini belum terbayarkan jika belum mengalahkan mereka di kandang harimau ini. Padahal saat ini moment yang pas untuk melakukannya. Jika tadi menang, ada 2 hal paling tidak yang sangat bernilai. Yakni lolos ke semifinal, dan membuat Malaysia tersingkir. Sayang, Takdir Tuhan menentukan lain. Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan diri jika seandainya kalah. Terutama mental, menyakitkan memang. Jauh-jauh datang ke Bukit Jalil untuk m...