Skip to main content

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Setiap kali bertemu dengan teman, baik itu lama atau baru, pertanyaan yang sering saya terima adalah istri kerja dimana Fan? Dan setiap kali pula pertanyaan itu saya jawab, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Ya, istri saya adalah seorang guru. Dia mengajar di salah satu sekolah di Jakarta. Dulu, sebelum kami menikah, dia pernah tanya kepada saya, “Memangnya Mas tidak malu beristrikan seorang guru?“
Buat saya, pertanyaan itu aneh. Kenapa harus malu? Apa yang salah dengan profesi guru?

Dia menganggap latar belakang saya yang bekerja di dunia bisnis, tidaklah cocok dengannya yang berlatar belakang dunia pendidikan. Terlebih, profesi guru saat ini bukanlah profesi favorit dikalangan sarjana. Kecuali kalau sudah kepepet tidak kunjung mendapat pekerjaan, karena guru identik dengan gaji rendah, yang masih disunat pula.

Tapi, alhamdulillah kami pelan-pelan bisa beradaptasi dunia yang berbeda itu.

Suatu saat, pernah ditengah obrolan sehari-hari kami, saya tanya ke dia, Kenapa sih kok mau jadi guru? Kan kalau dihitung-hitung banyak nggak enaknya?
Dan jawaban yang keluar, sungguh membuat saya terdiam dan bersyukur telah berjodoh dengannya. Istri saya menjawab, ada tiga alasan:

  1. Pahala yang terus mengalir selama ilmu yang dia tularkan, diaplikasikan muridnya.
  2. Mencerdaskan kehidupan bangsa
  3. Mencari Uang/Rejeki.

Subhanallah...

Tadinya saya pikir, jawaban ini main-main, tapi ternyata itu serius. Sungguh diluar dugaan saya, dan sekaligus menjawab kebingungan saya selama ini. Setiap kali saya tanya gaji yang diterima sekarang berapa sih? Perincian bagaimana? Jawabannya selalu, “Wah, aku nggak hapal mas“.

Tapi buat saya, beristrikan seorang guru memberikan banyak hal-hal yang baru dan menarik. Seringkali istri saya saat sudah dirumah, menceritakan polah tingkah muridnya. Yang nakal, ada yang manja sama gurunya (istri saya), dll.

Dan saya juga tahu, bagaimana anak seorang pengusaha besar dan juga politisi di skors karena melanggar aturan sekolah. Atau anggota DPR yang marah-marah bahkan datang bersama pengacara karena anaknya dikeluarkan dari sekolah. Dan ada menteri yang lebih mementingkan undangan ditempat lain dari pada mengambil raport anaknya.

Tidak semuanya negatif, karena ada pula seorang menteri yang menyempatkan diri menemui wali kelas dan guru yang mengajar anaknya, untuk tahu perkembangan sang anak. Padahal, dia tergolong menteri yang super sibuk. Ini terlihat sesaat setelah bertemu dengan para guru, dia langsung bergegas ke Istana untuk Rapat Kabinet.

Tapi, karena istri saya seorang guru pula, saya susah sekali membujuk dia untuk jalan-jalan ke Mal. Pernah suatu saat, dia pergi ke satu mal di daerah Selatan/Pusat Jakarta. Kebetulan dia bertemu dengan beberapa muridnya, dan apa yang terjadi? Dan segera murid-muridnya tadi berbaris rapi untuk sekedar bersalaman dan mencium tangan sang guru.

Serasa selebritis katanya ....

Comments

Popular posts from this blog

Masalah Parkir di Supermal Karawaci

Jika anda akan parkir, khususnya sepeda motor, di areal Supermal Karawaci saya sarankan untuk lebih teliti. Mengapa? Saya mengalamai hal ini sudah dua kali. Jadi kira-kira begini, pada saat kita mau keluar dari area parkir, kita diharuskan menunjukkan STNK dan menyerahkah karcis parkir kepada petugas. Prosedur standarnya adalah petugas itu akan memasukkan No Pol Kendaraan ke Mesin (semacam cash register), dan disitu akan tertera berapa jumlah yang harus kita bayar. Nah, prosedur inilah yang saya lihat tidak dilaksanakan oleh petugas parkir di Supermal Karawaci . Saat saya menyerahkan karcis parkir, dan dia melihat Jam saya mulai parkir, dia langsung menyebutkan sejumlah tertentu (tanpa memasukkannya ke mesin),yakni Rp. 3.000. Saya curiga, segera saya minta untuk dimasukkan datanya dulu ke mesin. Dan setelah dimasukkan. Apa yang terjadi? Jumlah yang harus saya bayar cuma Rp. 2.500. Dan ini saya alamai DUA KALI!. Dan seorang tetangga pun pernah mengalami hal yang sama. Coba bayangkan ji

Larangan Sepeda Motor Lewat Jalan Protokol; Mempersulit Hidup Orang Pas-Pas an

Kata orang kalau kita berada di tengah, cenderungnya aman. Nggak terlalu ekstrem, entah di ke atas atau ke bawah. Tapi, hal itu tidak berlaku buat orang yang pas-pasan hidup di Jakarta. Orang-orang kelas menengah bawah di Jakarta, tahun-tahun terakhir ini semakin menyadari bahwa naik sepeda motor adalah jawaban yang pas atas kemacetan yang terjadi tak kenal waktu di Jakarta. Nggak perduli orang tinggal di tengah Jakarta atau pinggiran Jakarta, mulai beralih ke sepeda motor sebagai alat transportasi utama. Ngirit baik waktu maupun biaya. Eh, ternyata kegembiraan ini tidak menyenangkan buat seorang yang Keras Kepala. Dia akan melarang sepeda motor melewati jalan Sudirman dan Thamrin. Dengan alasan membikin macet dan semrawut. Saya nggak tahu, dia itu mbodhoni atau memang benar-benar bodho. Satu sepeda motor dengan satu atau dua orang penumpang, hanya akan memakan jalan sekitar 1.5 meter an. Nah, sekarang bandingkan dengan satu orang yang naik mobil, sudah makan berapa meter tuh???? Jika

Karawaci Loop, Track Gowes Adem di Tangerang

Salah satu tempat recommended buat bersepeda di daerah Tangerang adalah KARAWACI LOOP. Ada yang menyebutnya LIPPO LOOP, karena lokasinya memang di Komplek Perumahan Lippo Karawaci Tangerang. Tapi ada yang menyebutnya LOLLIPOP, bahkan ada Komunitas Goweser di kawasan itu menggunakan istilah ini. Entah kenapa penyebutannya mirip nama permen. Mungkin biar terkesan unik, dan enak diucapkan. KARAWACI LOOP sendiri sebenarnya jalan Komplek Perumahan Lippo Karawaci, jalan menuju kesana dari arah pintu tol menuju Mall Karawaci, sebelum sampai di Mall, ada bundaran di depan Menara Matahari dan Benton Junction. Nah dari bundaran tersebut jika mau ke mall arahnya ke kanan, kalau ke KARAWACI LOOP dari bundaran lurus saja. Bisa dilihat di gambar peta dibawah ini. Kenapa tempat ini recommended untuk goweser?  SATU, karena jalan boulevard komplek, otomatis sepi tidak seramai jalanan umum. Ada dua jalur setiap jalannya. Jadi ada 4 jalur di kedua arahnya. Bahkan sebenarnya ada jalur khusus pesepeda yang