Saat menjalani liburan lebaran kemarin – kurang lebih 10 hari – saya merasakan, beginilah seharusnya hidup. Di pagi hari, sesaat setelah membuka mata, kita masih bisa menikmati sinar hangat mentari. Bercengkerama dengan anak dan istri. Sarapan bersama. Dan di sore hari pun, masih bisa melihat matahari tenggelam. Satu hal yang jarang saya temui di hari-hari kerja. Itulah hidup yang normal.
Terus, bagaimana hidup yang tidak normal?
Coba anda bayangkan, di pagi hari anda harus meninggalkan rumah dengan segera untuk bekerja. Untuk mencapai tempat kerja, paling tidak membutuhkan 1-2 jam. Lalu selama 9 jam kemudian anda habiskan di kantor dengan 1 jam istirahat. Di saat pulang, anda butuh 1-2 jam. Sampai disini saja anda sudah menghabiskan waktu 13 Jam. Berarti masih tersisa 11 Jam (24-13). Jika dikurangi waktu untuk tidur sekitar 6 jam, berarti masih ada 5 jam. Jadi kira-kira waktu segitulah yang ada untuk keluarga. Dari 5 jam itu, bisa saja anak sudah tidur, karena kecapekan nunggu orang tuanya pulang kerja. Dan itu berulang esok harinya. Itukah hidup normal?
Bisa saja, disebut normal, saat banyak orang melakukan hal yang sama. Meskipun jika kita melihat hitungan matematis seperti diatas, menunjukkan ketidakwajaran.
Buat saya, ilustrasi diatas itulah hidup yang tidak normal. Terlebih jika hal itu dilakukan oleh wanita. Apalagi wanita yang telah berkeluarga!
Sebut saja Joko, seorang PNS yang bekerja di sebuah instansi yang terkenal ‘basah’, beristrikan seorang wanita karir yang mempunyai posisi penting di satu perusahaan swasta. Sebut saja Ima. Saat ini mereka berdua dikaruniai seorang putri yang cantik berumur 3 tahun.
Sebagai seorang PNS, Joko menikmati jam kerja yang ‘aduhai’. Lebih ‘aduhai’ lagi ditempatkan di kantor dimana ‘amplop’ merupakan suatu kewajaran. Tak heran sebuah Volvo seri terbaru nangkring dengan manisnya di garasi rumah.
Sedangkan Ima, karena kedekatan dengan sang Direktur, dia tidak bisa menolak segunung pekerjaan yang disodorkan. Terlebih Ima seorang perfeksionis. Berhasil itu 100%, jika hanya mencapai 80% berarti gagal. Tak heran di usia yang sangat muda-35 tahun- Ima sudah menduduki posisi GM. Sekilas, kombinasi yang ideal. Tapi benarkah ideal?
Di saat Joko sampai di rumah setelah seharian bekerja, apa yang dia dapat? Putrinya masih bercengkerama dengan baby sitter. Tidak ada senyum manis sang istri. Di saat yang sama, Ima sedang melototin sederetan angka yang muncul di Laptopnya. Atau mungkin sedang rapat dengan klien. Saat Ima pulang ke rumah, anak & suami sudah berlayar ke pulau kapuk.
Dan esok harinya, episode yang sama berulang lagi.
Itukah hidup normal?
Terus, bagaimana hidup yang tidak normal?
Coba anda bayangkan, di pagi hari anda harus meninggalkan rumah dengan segera untuk bekerja. Untuk mencapai tempat kerja, paling tidak membutuhkan 1-2 jam. Lalu selama 9 jam kemudian anda habiskan di kantor dengan 1 jam istirahat. Di saat pulang, anda butuh 1-2 jam. Sampai disini saja anda sudah menghabiskan waktu 13 Jam. Berarti masih tersisa 11 Jam (24-13). Jika dikurangi waktu untuk tidur sekitar 6 jam, berarti masih ada 5 jam. Jadi kira-kira waktu segitulah yang ada untuk keluarga. Dari 5 jam itu, bisa saja anak sudah tidur, karena kecapekan nunggu orang tuanya pulang kerja. Dan itu berulang esok harinya. Itukah hidup normal?
Bisa saja, disebut normal, saat banyak orang melakukan hal yang sama. Meskipun jika kita melihat hitungan matematis seperti diatas, menunjukkan ketidakwajaran.
Buat saya, ilustrasi diatas itulah hidup yang tidak normal. Terlebih jika hal itu dilakukan oleh wanita. Apalagi wanita yang telah berkeluarga!
Sebut saja Joko, seorang PNS yang bekerja di sebuah instansi yang terkenal ‘basah’, beristrikan seorang wanita karir yang mempunyai posisi penting di satu perusahaan swasta. Sebut saja Ima. Saat ini mereka berdua dikaruniai seorang putri yang cantik berumur 3 tahun.
Sebagai seorang PNS, Joko menikmati jam kerja yang ‘aduhai’. Lebih ‘aduhai’ lagi ditempatkan di kantor dimana ‘amplop’ merupakan suatu kewajaran. Tak heran sebuah Volvo seri terbaru nangkring dengan manisnya di garasi rumah.
Sedangkan Ima, karena kedekatan dengan sang Direktur, dia tidak bisa menolak segunung pekerjaan yang disodorkan. Terlebih Ima seorang perfeksionis. Berhasil itu 100%, jika hanya mencapai 80% berarti gagal. Tak heran di usia yang sangat muda-35 tahun- Ima sudah menduduki posisi GM. Sekilas, kombinasi yang ideal. Tapi benarkah ideal?
Di saat Joko sampai di rumah setelah seharian bekerja, apa yang dia dapat? Putrinya masih bercengkerama dengan baby sitter. Tidak ada senyum manis sang istri. Di saat yang sama, Ima sedang melototin sederetan angka yang muncul di Laptopnya. Atau mungkin sedang rapat dengan klien. Saat Ima pulang ke rumah, anak & suami sudah berlayar ke pulau kapuk.
Dan esok harinya, episode yang sama berulang lagi.
Itukah hidup normal?
Comments