Skip to main content

Pelanggan Pasca Bayar Selular; Dibutuhkan tapi Dicuekin

Jika Pak Budi Rahardjo marah-marah ke Operator Selular karena billingnya melonjak, adalah satu hal yang wajar.


Kenapa wajar? Ya bagaimana tidak wajar, wong sebenarnya Operator Selular itu butuh konsumen yang seperti Pak Budi, termasuk juga saya :). Karena kita adalah pelanggan pasca bayar.

Orang yang selalu setia kepada satu operator. Setia diantara begitu banyak orang yang beli nomor tetapi memperlakukannya seperti beli pulsa. Hari ini beli, besok begitu pulsa habis ya nomornya dibuang. Terus beli nomor baru lagi. Wong bonus pulsanya gedhe. Dan harga yang dibayarkan adalah untuk nilai pulsanya. Dan nomornya tidak ada harganya alias gratis.

Berbeda jika kita bandingkan diawal tahun 2000 saat operator baru masuk tahap-tahap awal. Satu nomor bisa berharga amat mahal sekali. Saya saja beli nomor sekitar 200 ribu. Bandingkan dengan harga sekarang?

Fakta ketidaksetiaan konsumen cukup memusingkan operator. Bagaimana tidak, pada akhirnya mereka tidak bisa menghitung berapa jumlah pelanggan mereka sebenarnya. Alias banyak nomor hangus.

Dan jika kita mendengar jumlah pelanggan selular yang ada dikoran-koran itu, patutlah dipertanyakan, apakah itu termasuk nomor-nomor yang sudah hangus?

Katanya sih, kalau Telkomsel, mengkategorikan sebuah nomor itu pelanggan atau bukan jika nomor itu aktif selama minimal 6 bulan. Kurang dari itu tidak dianggap sebagai pelanggan.

Dan perang tarif murah antar operator, tujuan utamanya adalah untuk menarik pelanggan baru. Dan KITA HARUS JELI. Karena umumnya yang menjadi bagian dari promosi itu adalah untuk pengguna PRA BAYAR! Bukan PASCA BAYAR. Semakin banyak pelanggan, akan semakin baik arus kasnya.

Bagaimana dengan pelanggan pasca bayar?
Itulah, apes benar nasibnya. Selama ini tidak pernah ada promosi upaya perusahaan untuk tetap menjaga pelanggan pasca bayar. Tarif promosi tidak pernah untuk pelanggan pasca bayar. Jadi ya tarifnya tetap mahal.

Aneh kan, Dibutuhkan Tapi Dicuekin!



Comments

Popular posts from this blog

Masalah Parkir di Supermal Karawaci

Jika anda akan parkir, khususnya sepeda motor, di areal Supermal Karawaci saya sarankan untuk lebih teliti. Mengapa? Saya mengalamai hal ini sudah dua kali. Jadi kira-kira begini, pada saat kita mau keluar dari area parkir, kita diharuskan menunjukkan STNK dan menyerahkah karcis parkir kepada petugas. Prosedur standarnya adalah petugas itu akan memasukkan No Pol Kendaraan ke Mesin (semacam cash register), dan disitu akan tertera berapa jumlah yang harus kita bayar. Nah, prosedur inilah yang saya lihat tidak dilaksanakan oleh petugas parkir di Supermal Karawaci . Saat saya menyerahkan karcis parkir, dan dia melihat Jam saya mulai parkir, dia langsung menyebutkan sejumlah tertentu (tanpa memasukkannya ke mesin),yakni Rp. 3.000. Saya curiga, segera saya minta untuk dimasukkan datanya dulu ke mesin. Dan setelah dimasukkan. Apa yang terjadi? Jumlah yang harus saya bayar cuma Rp. 2.500. Dan ini saya alamai DUA KALI!. Dan seorang tetangga pun pernah mengalami hal yang sama. Coba bayangkan ji

Larangan Sepeda Motor Lewat Jalan Protokol; Mempersulit Hidup Orang Pas-Pas an

Kata orang kalau kita berada di tengah, cenderungnya aman. Nggak terlalu ekstrem, entah di ke atas atau ke bawah. Tapi, hal itu tidak berlaku buat orang yang pas-pasan hidup di Jakarta. Orang-orang kelas menengah bawah di Jakarta, tahun-tahun terakhir ini semakin menyadari bahwa naik sepeda motor adalah jawaban yang pas atas kemacetan yang terjadi tak kenal waktu di Jakarta. Nggak perduli orang tinggal di tengah Jakarta atau pinggiran Jakarta, mulai beralih ke sepeda motor sebagai alat transportasi utama. Ngirit baik waktu maupun biaya. Eh, ternyata kegembiraan ini tidak menyenangkan buat seorang yang Keras Kepala. Dia akan melarang sepeda motor melewati jalan Sudirman dan Thamrin. Dengan alasan membikin macet dan semrawut. Saya nggak tahu, dia itu mbodhoni atau memang benar-benar bodho. Satu sepeda motor dengan satu atau dua orang penumpang, hanya akan memakan jalan sekitar 1.5 meter an. Nah, sekarang bandingkan dengan satu orang yang naik mobil, sudah makan berapa meter tuh???? Jika

Karawaci Loop, Track Gowes Adem di Tangerang

Salah satu tempat recommended buat bersepeda di daerah Tangerang adalah KARAWACI LOOP. Ada yang menyebutnya LIPPO LOOP, karena lokasinya memang di Komplek Perumahan Lippo Karawaci Tangerang. Tapi ada yang menyebutnya LOLLIPOP, bahkan ada Komunitas Goweser di kawasan itu menggunakan istilah ini. Entah kenapa penyebutannya mirip nama permen. Mungkin biar terkesan unik, dan enak diucapkan. KARAWACI LOOP sendiri sebenarnya jalan Komplek Perumahan Lippo Karawaci, jalan menuju kesana dari arah pintu tol menuju Mall Karawaci, sebelum sampai di Mall, ada bundaran di depan Menara Matahari dan Benton Junction. Nah dari bundaran tersebut jika mau ke mall arahnya ke kanan, kalau ke KARAWACI LOOP dari bundaran lurus saja. Bisa dilihat di gambar peta dibawah ini. Kenapa tempat ini recommended untuk goweser?  SATU, karena jalan boulevard komplek, otomatis sepi tidak seramai jalanan umum. Ada dua jalur setiap jalannya. Jadi ada 4 jalur di kedua arahnya. Bahkan sebenarnya ada jalur khusus pesepeda yang