Sunday, September 07, 2008

Bunga KPR & BI Rate

Kira-kira 3 hari lalu, ada sebuah amplop warna kuning tergeletak di meja kerja saya. Ada sebuah logo bank swasta disitu. Wah surat dari Bank Niaga Nih. Ada apa gerangan ya?

Secara rutin memang surat semacam itu acap kali saya terima dari Bank-bank dimana saya menjadi nasabahnya. Mulai dari urusan kartu kredit, hingga masalah KPR.

Saya dari dulu sebenarnya tidak pernah berurusan dengan Bank Niaga. Baru saat saya membeli rumah secara kredit, saya bersentuhan dengan bank ini. Dan sejak itu pula ada saja telpon yang menawarkan beberapa produknya ke saya. Ada yang saya ambil dan tidak sedikit pula yang saya tolak.

Kembali ke masalah amplop tadi, pikiran saya langsung tertuju, mungkin masalah tagihan kartu kredit, tapi kok tipis ya? Terjawablah sudah, setelah amplopnya terbuka. Kira-kira isinya sebagai berikut

... efektif tanggal 11/8/200 bunga pinjaman bapak menjadi sebagai berikut, kondisi sekarang 11.9% Anuitas menjadi 12.4% Anuitas....


Deg.... bukannya dua bulan lalu saya sudah mendapat pemberitahuan kenaikan bunga pinjaman? Sekarang naik lagi? Oh shit maan .....

Dasar rentenir..

Gila, begitu cepatnya Bank Niaga menaikkan suku bunga pinjaman, seiring dengan kenaikan BI Rate dari 8.75% di awal July menjadi 9% di 5 Agustus. Padahal diawal September ini bunga sudah naik lagi menjadi 9.25%. Wah berarti akan ada surat lagi nih dari Bank Niaga.

Ya, itulah kerakusan rentenir seperti Bank Niaga, dan juga bank-bank yang lain. Begitu cepat mereka MENAIKKAN BUNGA PINJAMAN untuk MERESPON KENAIKAN BI RATE, tetapi BANK NIAGA akan SANGAT LAMBAT MENURUNKAN SUKU BUNGA saat BI RATE TURUN!

Kalau ditarik mundur kebelakang, ini efek dari KEBIJAKAN MENAIKKAN HARGA BBM oleh SBY-JK, disaat KENAIKAN HARGA MINYAK DUNIA. Yang berujung pada kenaikan semua harga, enggak perduli harga apa saja. Naiik semua. Jadinya ya Inflasinya melonjak.

Dan SBY-JK BERTINDAK SAMA seperti RENTENIR tadi, saat HARGA MINYAK DUNIA TURUN harga BBM di Indonesia tetap diposisinya. Entah apa yang dipikirkan SBY-JK melihat ini.

TURUN akhirnya menjadi KATA TABU BAGI sebagian orang INDONESIA




6 comments:

Anonymous said...

Saya pakai bank BCA dan secara rutin saya diinformasikan kenaikan dan penurunan bunga KPR per 6 bulan. Bila ada perubahan di BI rate didalam masa 6 bulan itu, maka bunga KPR ikut ke perubahan terakhir. Apa sama dengan Niaga..? Kalau bank lain ada yang pertahun perubahannya.

RB said...

setiap bank, berbeda kebijakannya. Bukan cuma antar bank, di dalam satu bank yang sama bisa berbeda kebijakan antara perjanjian kredit satu dengan yang lain.

Kalo perjanjian kredit saya dengan bank niaga sekarang ini, bunga flatnya hanya di satu tahun pertama. setelah itu ya mengambang.

Yang jadi ganjelan saya ya itu.... untuk kenaikannya mereka merespon sangat cepat sekali, sedang saat turun....wuih serasa melihat KEONG BERJALAN DEH .....

Toni_Solo said...

Hallo mas Taufan...piye kabare? Met puasa mas ya..semoga tambah sabar ngadepi KPR-nya..he.he..
Kebetulan aku belum lama ini juga ngajukan KPR mas, dari hasil bertanya kesana kemari, saya sudah menduga akan terjadi "floating rate" seperti itu untuk hampir semua bank konvensional pasca promo rate murah mereka setelah kita menjadi nasabahnya beberapa waktu tertentu..
Akhirnya saya coba tanya2 yang model syariah, dan ternyata mereka flat sepanjang masa "akad pembiayaan/KPR", dalam poin perjanjian akad mereka yang pernah saya baca, disebutkan jika terjadi perubahan kondisi perekonomian nasional yang "extrim" akan dibuka peluang perubahan angka cicilan sebanyak max 3x selama masa akad terjadi (saya sempat tanya ke salah satu nasabah pola syariah, katanya mereka malah dapat flat sepanjang akad kredit sampai lunas).
Yo wis akhirnya aku masuk aplikasi ke Muamalat, dan ternyata ketika bank lain ikut floating rate-nya BI, angsuran kami ajeg aja tuh..Trus karena kami ambil jangka waktu akad yg max, kalau dihitung secara rate/bunga jatuhnya interes rate-nya hanya 8,3%/thn..alangkah indahnya...
Coba di take over ke Muamalat aja mas..sapa tau ada solusi dari jeratan rentenir seperti itu..

RB said...

Alhamdulillah Toni..baik-baik aja.
Sebenarnya memang paling bagus kalo berbasis syariah. Seperti yang kamu ceritain itu.

Satu hal yang masih menjadi tanda tanya buatku adalah, kalo seandainya ditengah jalan kita ingin melunasi hutang itu, bagaimana? Apakah bisa?

Yang saya dengar nggak bisa. Ada yang bilang bisa. Masih agak ragu jadinya.
Kalau bisa sih kepikiran juga untuk pindah ke muamalat.

Toni said...

Menjawab tanda tanya diatas tentang pelunasan di tengah jalan, pertanyaan itu pernah saya ajukan juga ke Muamalat mas, mereka menjawab katanya bisa tuh, ndak ada masalah, jadi tinggal menyelesaikan sisa "pokok" dengan ditambah "margin (Bunga)" pada bulan tersebut & tidak ada pinalty apapun...yang jelas saya belum pernah melakukan itu, jadi ya riil detailnya gimana belum bisa kasih tau...
He..he.. aku kok kayak marketing muamalat aja yo mas..Ngapunten..

Dessy Eka Pratiwi said...

Semoga dengan ini adalah awal dari Perkembangan Ekonomi Indonesia yang membaik.