Friday, December 22, 2006

Kedahsyatan Sebuah Niat

Ternyata benar kata orang, yang penting itu Niat dulu. Terlebih sebuah Niat baik. Meskipun kita belum tahu cara mewujudkan niat kita tersebut. Asal kita berniat, Insya Allah ada saja jalan untuk menuju kesana.

Ceritanya begini, sekitar satu atau dua minggu yang lalu, saya bimbang untuk memutuskan apakah akan berqurban tahun ini atau tidak. Karena memang saat ini kebutuhan sedang banyak, mulai dari kenaikan cicilan rumah, dan juga rencana renovasi rumah.

Ditengah kebimbangan itu, akhirnya saya putuskan untuk berqurban satu kambing untuk Idul Adha tahun ini. Saya teringat ucapan Ustad Yusuf Mansyur, beramallah dengan hartamu yang paling kamu cintai. Pikiran saya, sampai dengan hari ini Allah begitu baik sama saya dan keluarga. Terutama rezeki. Jadi ya, sepertinya tidak ada alasan untuk tidak berqurban. Meskipun dari hitungan saya, keuangan saya akan pas-pasan. Ya karena kebutuhan diatas terjadi pada saat yang bersamaan.

Dan ternyata sekali lagi, Allah membukakan pintu bagi orang yang berniat baik. Kemarin, pimpinan di kantor tiba-tiba membagikan surat kepada seluruh karyawan. Saya sudah menduga, ini pasti surat pemberitahuan bonus tahun ini. Biasanya besarannya tidak jauh dari gaji pokok. Jadi saya tidak terlalu berharap banyak. Karena memang prestasi saya dan tim saya biasa-biasa saja.

Dan saya kaget saat melihat angka yang tertera. Karena jumlahnya jauh diatas ekspektasi saya. Dan ini diluar dugaan. Ternyata keuangan perusahaan memang sedang bagus dan berhasil melewati target. Bonus yang saya terima pun terbesar sejak saya bergabung di perusahaan ini. 30% lebih tinggi dari gaji pokok. Biasanya berkisar +/- 5 %. Saya cuma bisa bersyukur atas karunia ini.

Dahsyatnya sebuah niat tadi mengingatkan pada seorang teman, saat ibunya mau naik haji, dia cuma berniat bisa memberi uang saku buat bekal di Tanah Suci. Maklum ibunya sudah janda, dan teman saya ini profesinya sebagai seorang tentara yang gajinya mungkin tidak terlalu tinggi.

Ternyata dari berniat memberi tadi, tiba-tiba dia ditelpon temannya yang mau pulang dari Jerman setelah tugas belajar dari dinas militernya. Dia disuruh menjemput di bandara. Dan saat pulang, tiba-tiba dia disodorin uang $200. Akhirnya uang itu langsung dia serahin ke ibunya. Tanpa sepeserpun dia ambil.

Berniat baiklah, meskipun anda belum tahu bagaimana mewujudkan niat itu!

Thursday, December 07, 2006

Seks dan Poligami

Kata Seks dan Poligami, saya rasa menjadi dua kata yang paling banyak diingat orang minggu-minggu ini. Hal ini terkait dengan Video Sex Yahya Zaini dan Maria Eva, kemudian Pernikahan Aa Gym dan Elfarini.

Yang pertama, saya sih nyebutnya “Selingkuh atas Biaya Negara”. Anggota DPR, digaji pake uang rakyat, eh ngumbar “lendir” seenaknya. Sudah gitu, nggak dipecat lagi dari DPR. Eh Presiden SBY diem lagi. Sedangkan Aa Gym berpoligami, legal, gentlemen, atas persetujuan istri, SBY langsung bereaksi ketemu Meutia Hatta ngomongin masalah revisi UU Perkawinan dan PP yang melarang Pejabat kawin lagi.

Lha kalau “Selingkuh atas Biaya Negara” dibolehkan ya Pak Presiden, kok sampeyan meneng wae?

Atau Pak SBY mau melarang Aa Gym jadi Presiden di tahun 2009 nanti? Yang jelas jika PP itu keluar, boleh jadi akan banyak calon pejabat dari partai-partai Islam yang terkena.

Kecuali, punya Istri satu dan selirnya banyak, begitu Pak SBY????

Mengenai Poligami, saya sih coba melihatnya dari sisi seks saja. Biarlah yang lain bicara dari sisi yang lain lagi. Terlebih seks kan enak dibicarakan, apalagi dilakukan …

Dalam hal seks, pada umumnya laki-laki itu cenderung lebih dari pada wanita. Saat melakukan hubungan seks pun, banyak istri yang melakukannya sekedar menggugurkan kewajiban. Tanpa kenikmatan, tanpa orgasme. Bahkan wanita lebih memilih bersayang-sayangan tanpa penetrasi dalam melakukan TimSuis. Sedangkan lelaki lebih menikmatinya saat penetrasi.

Coba seandainya nih, ada suami yang menggebu-gebu ingin TimSuis, begitu ketemu istrinya eh ternyata masih haid. Berarti paling nggak ya 5 sampai 7 hari lah menahan keinginannya tadi. Nah saat istri sudah selesai haidnya, ternyata sang suami mendapat tugas ke luar kota selama satu minggu. Diluar kota tanpa istri? Kemungkinannya banyak hal bisa terjadi, selingkuh, atau jajan, atau bisa juga swalayan alias masturbasi, atau bisa juga nggak ngapa-ngapain tapi uring-uringan.

Pas sang suami pulang, eh gantian istrinya yang dapat tugas keluar kota. Seminggu pula! Alamaaak. Setelah seminggu berlalu, apa yang terjadi setelah si Istri pulang? Saya capek mas …
Begitu capeknya hilang, eh sudah haid lagi ……..

Permen Sebagai Pengganti Uang Kecil


Kejadian ini saya alami minggu kemarin, saat ada tugas ke Bali, dimana saya mampir ke KFC di Discovery Mall. Maksud hati mau ngisi perut yang mulai kelaparan. Dan saya suka bingung kalau ke Bali, terutama dalam urusan makanan. Tahu sendiri kan susah untuk mencari yang halal. Ya paling larinya ke fast food lagi, fast food lagi. Tapi ya nggak papa lah, toh cuma sesekali saja.


Bukan itu yang mau saya ceritakan. Nah saat saya membayar makanan. Yang harus saya bayar adalah sebesar 17.600 rupiah. Dan saya menyerahkan uang 18.000 rupiah. Berarti saya mendapat kembalian 400 rupiah dong. Mbak kasir nya sempet tanya saya, apakah punya uang 100 rupiah, saya bilang tidak punya. Dan tiba-tiba dia sambil minta maaf dan menyerahkan permen 3 buah sebagai pengganti 400 rupiah tadi. Saya cuma bisa bengong dan dongkol!

Tadinya saya mau protes langsung, cuma setelah saya pikir-pikir lagi, lebih baik saya tulis saja di blog saya, bukan bermaksud untuk menjelekkan nama KFC. Tapi lebih sebagai kritik dari konsumen.

Padahal, siang harinya saya sudah dikagetkan hal yang serupa di Tiara Grosir, masih di Bali juga tepatnya di Ubung, saat sedang antri di kasir untuk membayar Kacang Rahayu, tiba-tiba mata saya tertuju pada tulisan yang terpampang di dekat kasir. Yang menyebutkan bahwa sebagai pengganti uang kecil untuk kembalian, mereka menggantikannya dengan Permen!

Nggak cuma di Bali saja sebenarnya, di Indomaret cabang BCA Sudirman (basement) pun melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu kalau Indomaret cabang lain.

Seandainya, permen yang saya dapat dari kembalian itu dikumpulkan sampai jumlah tertentu kemudian dibelanjakan, akankah toko-toko tersebut akan menerima? Atau mungkin saya membayarnya dengan permen saja. Tidak perduli permen itu saya kumpulkan dari pengganti kembalian atau saya beli langsung dalam jumlah tertentu. Akankah diterima?

Padahal, kalau dilihat dari pelaku diatas, mereka adalah perusahaan besar yang tentu saja sangat mudah untuk menukarkan sejumlah uangnya di Bank (setahu saya di Bank Indonesia menerima penukaran uang) dalam pecahan yang lebih kecil.

Ayo beli dengan Permen !