Thursday, September 14, 2006

Kutipan : Jaringan Islam Liberal dan Ulil Abshar Abdala

Ada fakta menarik ketika seorang wartawan majalah Islam menemui Ulil Abshar Abdala, pentolan JIL. Si wartawan yang lulusan LIPIA di Jalan Matraman, Jakarta, mencoba akrab dengan Ulil yang dikeluarkan dari LIPIA.

Entah karena ingin sok jago-jagoan atau ingin berkata jujur, Ulil menyatakan bahwa dirinya tidak akan sepanjang hayat mempromosikan JIL. Saya, demikian Ulil, akan tobat kalau sudah tua dan punya dollar yang cukup.Itu nyata-nyata dikemukakan kepada si wartawan tadi yang sampai sekarang masih sehat bugar.

(Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara, Fakta & Data Yahudi di Indonesia, Februari 2006, hal 190).

Saturday, September 09, 2006

Jadi Pemain Bola, Bisakah menjadi sandaran Hidup?

Apa komentar anda jika anak anda bilang mau jadi pemain bola? Saya yakin banyak yang masih ragu. Apa mungkin jadi pemain bola bisa menghidupi keluarga? Apalagi kalau melihat banyak atlet olah raga yang terlunta-lunta di masa tuanya.


Kalau anda ragu, sebenarnya anda tidak sendirian. Hampir semua orang tua pasti khawatir anaknya jadi pemain bola. Nggak salah sih kalau ragu. Cuma, mungkin banyak yang belum tahu, berapa gaji pemain bola di Indonesia.

Berapa sih gaji pemain bola di Indonesia? Di level nasional, pemain yang dipanggil PSSI untuk mengikuti training jangka panjang [PSSI U-23 di Belanda, Timnas Piala Asia 2007 di Birmingham, Inggris], kalau tidak salah dikontrak PSSI dengan bayaran perbulannya sekitar 40 Juta rupiah. Kalau melihat panjangnya kontrak, lebih dari 6 bulan, berarti tiap pemain PSSI paling tidak mengantongi uang 240 Juta rupiah. Itu belum termasuk bonus jika menang atau seri di tiap pertandingan.

Berapa uang yang anda kumpulkan dalam waktu 6 bulan?

Kenapa PSSI berani menggaji sebesar itu? Karena gaji mereka di klub masing-masing pun untuk pemain sekelas Tim Nasional tidak jauh dari angka itu. Mungkin kurang. Tapi tidak terlampau jauh.

Sebagai contoh Erol FX Iba, harga kontraknya di kompetisi 2007 sekitar 800 juta setahun. Kalau dibagi rata 12 berarti dia mendapat 66 juta rupiah lebih perbulan atau 16 juta lebih per minggu.
Contoh lain adalah Ilham Jayakusuma. Pemain ini sebenarnya masih terdaftar sebagai PNS di Tangerang. Sebelum di kontrak Klub Malaysia, pendapatan dia per tahun adalah 600 juta. Bisa dibayangkan dong, per bulan berapa. Gaji bosnya pun lewat.

Kemudian Bambang Pamungkas. Jika dia tidak masuk Timnas Piala Asia 2007, konon banyak klub yang berebut untuk mengontraknya. Harganya bisa tembus 1 milyar!

Sebenarnya maklum saja kalau para pemain itu dibayar mahal. Alasannya adalah golden age nya paling sampai umur 30an. Contohnya seperti Rocky Putiray. Alumni PSSI Garuda di era 80an yang sampai sekarang masih aktif. Dia sudah banyak klub, mulai dari Arseto Solo hingga sampai ke Hongkong. Bahkan dulu jaman di Solo, dia pernah di test untuk masuk klub Auxere Perancis. Tapi nggak lolos.

Kalau setelah gantung sepatu? Pilihannya apakah mau terus di dunia sepak bola atau bidang lain. Kalau di sepak bola, pilihannya bisa jadi Pelatih, atau jadi komentator, atau punya SSB alias Sekolah Sepak Bola. Atau mau jadi pengusaha Penyewaan Lapangan Futsal [ini bisnis baru lho, kalau nggak salah sewanya dihitung per pemain].

Kalau mau jadi pelatih, bisa dilihat gaji seorang Rahmad Darmawan, pelatih Persija, yang kontraknya setahun sampai 1.5 Milyar. Terus orang yang menyebut dirinya sebagai Pelatih Kampung, Suimin Diharja [Eks Pelatih PSMS dan PSPS Pekanbaru], menawarkan diri ke Sriwijaya FC dengan kontrak setahun 250 Juta. Katanya, ini sudah harga obral lho ...

Kuncinya adalah, pengelolaan keuangan semasa jaya dan persiapan untuk pensiun.Coba seandainya Kurniawan Dwi Yulianto tidak kena narkoba [pengaruh dari mahasiswa Indonesia yang tinggal disana] semasa di Lucern Swiss, bisa jadi sekarang sudah malang melintang di Liga Eropa.


Masih banyak jalan kok ...


Friday, September 08, 2006

Kenapa Suporter Sepak Bola Jadi Liar?


Kira-kira apa ya, yang ada di pikiran para bonek itu? Kok bisa-bisanya, nonton bal-bal an belum selesai kok wis nyerbu lapangan, lempar sana-sini, bakar mobil. Mangan ora bayar.


Saya rasa pertanyaan itu ada di benak semua orang. Terutama buat orang-orang yang tidak pernah nonton bola. Anda pernah nonton bola? Saya yakin hampir semuanya bilang pernah. Tapi kalau ditanya lagi, pernah nonton bola Liga Indonesia di stadion, terutama tribun timur?

Kalau ingin tahu nuansa nonton bola sebenarnya adalah di stadion, terutama di tribun timur. Kenapa tribun timur?

Stadion umumnya terdiri dari 4 tribun, yakni Barat, Timur, Utara, Selatan. Posisi gawang terletak di sisi utara dan selatan. Hal ini untuk menghindari sinar matahari yang menyilaukan terutama buat kiper. Karena, kebanyakan pertandingan di Indonesia diadakan pada sore hari.

Dari keempat tribun tadi, tribun barat adalah yang termahal. Di era 90an, tribun barat Stadion Jatidiri, tiket pertandingan PSIS untuk tribun barat berkisar 10.000 hingga 15.000. Tidak tahu kalau sekarang, kalau tidak salah sudah sampai 50.000 per pertandingan. Atau 1 juta rupiah untuk tiket terusan.

Nah kalau tribun timur, dulu dikisaran 4.000 - 5.000 nggak tahu kalau sekarang. Alias tribun kelas kambing. Panas, berdiri, penuh lagi. Klop deh. Dan di tribun utara dan selatan lebih murah lagi.

Jadi jika anda nonton di tribun timur, anda harus bersiap segalanya. Misal pake helm , maklum yang namanya batu, tiba-tiba bisa saja sampai di kepala anda. Yang lempar? Setan kali ya..

Terus, jaga dompet anda. Maklum, nggak semuanya motivasinya nonton bola. Copet juga banyak. Sudah jamak, kalau habis pertandingan banyak dompet berserakan tapi nggak ada duitnya.

Tips yang lain adalah cari tempat strategis, dan pikir jalan keluar jika terjadi keributan. Anda benar-benar harus waspasda, kalau tiba-tiba ada keributan. Jika anda sudah sering nonton, biasanya feeling anda akan lebih tajam jika akan ada keributan.

Kok kayaknya nggak enak semua ya? Nggak juga, kalau anda lagi stress, nontonlah pertandingan sepak bola di tribun timur. Karena disini, anda bisa teriak sepuasnya. Terkadang teriakan-teriakan itu tidak cuma berisi dukungan, tapi makian. Jadi serasa kebun binatang pindah deh. Semua aneka jenis nama binatang tiba-tiba berhamburan.

Pernah di era 90an, seorang temen kuliah di Semarang yang berasal dari Bandung, nonton pertandingan PSIS lawan PERSIB di Stadion Jatidiri. Tahu dia liat di mana? Di Tribun Timur. Edan memang. Untungnya dia fasih berbahasa Jawa, jadi tidak ketahuan kalau dia bobotoh Persib. Habis pertandingan, komentarnya cuma satu, "Edan, nonton bola suasananya kayak mau perang!"

Jadi bisa dibayangkan, orang lagi stress [entah itu banyak utang, berantem sama istri, atau pelajar nggak lulus ujian], kumpul jadi satu. Nonton klub kesayangannya, eh klubnya kalah. Dadi tenan !

Yang biasanya penakut, pengecut, tiba-tiba jadi beringas. Dapat sparring partner Polisi, badan capek, gaji kecil, pangkat nggak naik-naik, utang di warteg banyak.

Akhirnya, ya rusuh....

Thursday, September 07, 2006

Politik Kantor

Dalam dua minggu terakhir, ada 2 topik yang cukup mengguncang ritme kerja di kantor. Yang pertama adalah diberhentikannya salah seorang pimpinan divisi. Dan yang kedua, skorsing terhadap salah satu rekan kerja yang sudah cukup lama berkarir di sini.


Kasus pertama, sebut saja namanya Acong. Home based dia di Singapura. Dan dia mempunyai bawahan atau kolega yang tersebar di seluruh kantor di Asia. Jadi cukup banyak yang kenal dan dia salah satu orang berpengaruh di kantor ini. Acong ini termasuk orang pintar, dengan latar belakang sebagai programer software, tetapi dapat berkarir diluar latar belakang pendidikannya. Pintar dalam teknis pekerjaan, cakap berkomunikasi, dan piawai memperluas networking.

Karena kemampuannya itulah, dia sering dijadikan trainer di kala perusahaan mengadakan inhouse training. Boleh dibilang dia menjadi salah satu orang penting. Apalagi karirnya terhitung cepat. Berawal dari eksekutif di level country akhirnya meningkat menjadi mengepalai divisi di tingkat regional.

Proses pemberhentiannya terhitung sangat cepat. Sening pagi, tanggal 28-8-2006, begitu tiba di kantor langsung dipanggil bos besar. Tidak ada yang tahu apa yang jadi topik pembicaraan, bahkan hingga kini. Dan Acong diberhentikan seketika begitu keluar dari ruangan itu.

Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, email dari salah satu direktur segera meluncur ke seluruh karyawan di Asia, yang intinya langkah yang diambil perusahaan saat ini bukanlah cara yang biasa ditempuh. Dilihat dari kalimat yang ada [walaupun sudah disensor sama bos], pimpinan berusaha untuk meredam gejolah yang mungkin timbul di kemudian hari. Kenapa dia dipecat? No body knows...

Nah, yang kedua ini, orangnya tiap hari saya berinteraksi dengannya. Sebut saja Ucok. Sudah hampir 10 tahun dia berkarir disini. Dan dengan posisi yang tidak pernah berubah sejak dia tercatat sebagai karyawan disini dulu hingga kini.

Yang dia lakukan setiap hari? Datang telat, buka detik.com atau websitenya koran Waspada, ngobrol sana sini, ngledekin orang dari sejak datang hingga pulang. Kemampuannya ? Bahasa Inggris yang kalau dibandingkan sama anak SMA pun dia kalah pintar. Komputer, biasa saja. Marah-marah ke anak buah, wah ini paling jago. Ditambah sikapnya yang berlagak bos besar kepada karyawan baru.

Bukannya dia tidak pernah di kasih kesempatan untuk berubah atau dikasih training untuk upgrade kemampuannya. Semua sudah, termasuk Surat Peringatan yang akhirnya dirobek.

Dia pernah ngomong, sebenarnya kerja di kantor ini cuma sebagai status. Maklum dia ini anak sulung dari orang tua yang kaya raya di kampungnya sono. Jalan pikiran ini lah yang sampai sekarang tidak masuk ke logika saya. Saya rasa semua orang kepingin punya banyak uang dan bisa senang-senang. Nggak usah capek-capek kerja atau dimarahin bos. Tetapi ternyata dia tetap saja bekerja sebagai karyawan biasa. Aneh.

Semua orang dikantor juga tahu, kalo dia mempraktekan KDK, Kantor dalam Kantor. Dia punya usaha, dan dia menjalankan banyak menggunakan fasilitas kantor. Terutama telpon.

Mungkin karena bos sudah mentok, akhirnya punishment itu jatuh juga. Selasa kemarin dia dipanggil, dan langsung disodori surat cuti selama 10 hari yang harus ditandatangani. Dan juga surat yang menyatakan alasan kenapa dia dikenai skorsing 10 hari [potong cuti] ini.

Hikmah yang bisa diambil? Setiap orang yang saya temui dan mengetahui tentang kasus-kasus tersebut punya hikmah sendiri-sendiri. Baik dilihat dari sisi pekerjaan, kemanusiaan, dll.

Dan yang paling berkesan buat saya, saat salah seorang dari kami bilang ke Ucok begini:

Lebih memilih mana, diingetin sama teman, diingetin sama bos, atau diingetin sama Tuhan?

Kalau saya? Sebelum diingatkan sama ketiganya, berharap dapat mengingatkan diri sendiri dahulu.

Kalau Anda?