Sunday, March 17, 2013

Kuda Troya Itu Bernama Djohar Arifin Husin

Di mitologi Yunani, istilah Kuda Troya muncul saat terjadinya Perang Troya antara Kerajaan Troya dan Pasukan Yunani. Sejatinya Kuda Troya adalah sebuah Kuda raksasa terbuat dari kayu, yang ditinggalkan begitu saja oleh pasukan Yunani di pinggir kota Troya.

Pasukan Yunani berpura-pura kalah karena sudah bertahun-tahun menyerang Kerajaan Troya dan gagal menaklukkannya. Dan Kuda Troya itu tadi tidak sekedar Kuda Kayu Raksasa, tetapi didalamnya diisi sejumlah pasukan Yunani. 

Melihat pasukan Yunani yang mundur teratur, Pasukan Troya bergembira dan segera menarik Kuda Troya tadi masuk ke Kota Troya. Malang tak dapat di tolak. Di saat mereka lengah, tentara Yunani yang disusupkan tadi berhasil membuka pintu gerbang kota Troya yang membuat Pasukan Yunani berhasil masuk dan memporak-porandakan Kota Troya. Dan mereka menang perang.

Analogi Kuda Troya diatas, persis seperti peran yang dimainkan Djohar Arifin Husin di konflik PSSI sekarang ini. Djohar Arifin Husein menjadi sosok tak diperhitungkan saat pemilihan Ketua PSSI pasca lengsernya Nurdin Halid di Solo, tahun 2011 silam. Saat itu Djohar Arifin Husin didukung Kelompok 78 yang menggelorakan Revolusi PSSI menggulingkan status quo.

Padahal siapa sih Djohar Arifin Husin?

Dililhat dari karir sepakbola, cukup lengkap perjalanan seorang Djohar Arifin. Mulai dari pemain sepakbola, wasit, hingga Staf Ahli Menpora. Tidak heran dia cukup bernyali mencalonkan diri menjadi Ketua PSSI saat itu.

Ditengah pertempuran Kelompok Bakrie vs Arifin Panigoro, tokoh ini muncul dan kubu Arifin Panigoro lah yang akhirnya memenangkan pertempuran saat itu melalui Djohar Arifin. Sosok yang sebenarnya bukan bagian dari kubu reformasi sepakbola saat itu.

Kubu Bakrie mundur teratur untuk sementara waktu sambil melakukan serangan dari segala lini. Mereka melakukan kerja politik baik itu ke FIFA, AFC, pemerintah, media, klub, bahkan ke kelompok suporter.
Mereka [KPSI] juga konsisten menjalankan Liga Ilegal yakni Indonesia Super League. Apapun kondisinya mereka konsisten menggulirkan kompetisi ISL dengan segala ciri khasnya. Apa itu?

  •  Kemenangan hampir pasti untuk tuan rumah. Silahkan hitung prosentase kemenangan tim tuan rumah di ISL bandingkan dengan angka yg sama di kompetisi negara lain.
  •  Penalti untuk tuan rumah di menit-menit akhir pertandingan.
  •  Offside untuk tim tamu
  •  Jika Tim tuan rumah masih tertinggal, injury time akan sampai 5 menit, dan jika tuan rumah sdh unggul, iniury time cukup 2 menit :)

Konflik yang berlarut, seperti didiamkan oleh pemerintah. Entah kenapa. Bahkan semakin hari pihak KPSI seperti mendapatkan angin atas 'konsistensi' mbalelo nya ini.

Berbagai macam 'sandera' untuk pemerintah dijalankan. Seperti ancaman tersangka untuk Andi Malarangeng di kasus hambalang. Yg mengakibatkan Andi Malarangeng sebagai menpora menekan PSSI untuk memberi jalan KPSI. Bahkan APBN untuk timnas ke AFF saat itu pun di tahan, padahal itu sudah jadi hak Timnas. Tragis !!  Walaupun akhirnya Andi Malarangeng terjeremembab juga, jadi tersangka Kasus Hambalang !!

Roy Suryo, yg pernah ngetwit tidak akan mau jadi Menpora jika ditawari jabatan itu, akhirnya menjilat ludahnya sendiri. Pakar telematika spesialis video porno ini menjalankan 'misi' koleganya di Partai Demokrat sebelumnya, MENINDIH PSSI yang sah, yang legal.

Dan pelan-pelan pintu untuk Mafia Sepakbola Indonesia akhirnya terbuka. Hari demi hari pintu itu tebuka semakin lebar.

Dimulai dari Djohar Arifin yang ngotot membentuk BTN yang dipimpin Isran Noor, politisi Demokrat yang telah menyumbang 1 milyar untuk Timnas AFF. Keputusan ini ditentang internal PSSI, seperti Farid Rachman, Sihar Sitorus, dan Exco lainnya.

Hal ini membuat Djohar Arifin berbalik arah ke pihak KPSI. Padahal masih belum hilang ingatan rakyat saat La Nyalla hampir berantem dengan Djohar Arifin di studio metro tv saat syuting Mata Najwa. Tapi hal itu berubah 180 derajat hanya dalam hitungan hari. Mereka berdua seperti pasangan serasi dalam beberapa waktu berikutnya.

Sampai akhirnya palang pintu Kubu Reformasi, Sekjen Halim Mahfudz, dipecat orang yang masih belum resmi kembali ke PSSI. Perlahan pilar-pilar kubu reformasi di rubuhkan oleh KPSI.

Dan hari ini tanggal 17 Maret 2013 di KLB PSSI, akan menjadi catatan hitam Sang Kuda Troya, Djohar Arifin Husin, kemudian Menpora Roy Suryo karena telah merestui kembalinya penjahat-penjahat sepakbola Indonesia ke PSSI yang sah.

KLB ini tak ubahnya Kongres KPSI berbaju PSSI. Orang awam akan melihat Djohar Arifin sebagai simbol PSSI yang sah. Dan menganggap sudah terjadi perdamaian antara KPSI dan PSSI dengan adanya KLB PSSI ini.

Padahal yang sebenarnya terjadi, Ketua Umumnya tetap Djohar Arifin tetapi unsur-unsur dibawahnya metamorfosa dari KPSI yang selama ini konsisten merongrong kepengurusan federasi yang sah, dan konsisten pula merusak sendi-sendi olah raga khususnya sepakbola.

Menyedihkan karena hal itu terjadi atas restu pemerintah. 

Negeri ini memang negeri BEDEBAH.

Saat Sepakbola Tidak Menarik Lagi

Indonesia bisa dinobatkan negara yang paling sering menyelenggarakan Kongres Federasi Sepakbola [PSSI]. Dalam 2 tahun ini tercatat ada 10 kali yang konon namanya Kongres baik itu Federasi Resmi maupun yang mengaku resmi [KPSI].
Majukah Sepak Bola Indonesia? Tidak. Justru membuat sepakbola Indonesia menjadi semakin tidak menarik. Indah seandainya headline media tentang sepak bola adalah Juaranya Timnas Indonesia entah di level Asia Tenggara atau mungkin Asia.
Sayang terjadi sebaliknya. Konflik, saling klaim, kudeta antar pengurus lebih mendominasi berita media. Kemana Pembinaan Usia Dini? Kompetisi yang sehat dan JUJUR ?
Belum lagi berita pemain bola yang belum digaji meski kompetisi sudah selesai. Bahkan ada pemain asing sakit, dan tidak mendapat perawatan yang selayaknya yang berakhir kematian. Untuk pulang ke negaranya pun dia tidak mampu.
Entah sampai kapan carut marut sepakbola Indonesia imi berlangsung. Padahal disaat yang sama, anak-anak Indonesia rame-rame berlatih dan bermain bola lewat SSB maupun ekskul sekolah masing-masing.
Bahkan banyak pihak yang peduli dengan sepakbola anak-anak ini. Beberapa perusahaan menggulirkan liga juniornya sendiri-sendiri. Liga Kompas, Yamaha Cup, Liga Top Skor, Liga Pertamina, dan yang terbaru Dua Kelinci.
Belum lagi beberapa penggiat Pembinaan Usia Dini yang menggulirkan Liga Anak Garuda Nusantara yang belum didukung perusahaan besar sebagai sponsornya tapi sdh bergulir di beberapa kota.
Saat sepakbola senior tidak menarik lagi, anak-anak itu seolah menjadi oase. Ada kegembiraan, sportifitas, kejujuran, dan salin memaafkan. Unsur-unsur yang hilang di sepakbola senior.

Sunday, March 10, 2013

When IMAGE is more IMPORTANT than REALITY

Ungkapan yang jadi judul tulisan ini, "When Images is more Important than reality" saya kutip dari kultwitnya @fahrihamzah, seorang legislator dari PKS, tentang fenomena pencitraan akhir-akhir ini.
Pencitraan seperti menjadi kosa kata baru, terutama saat SBY berhasil terpilih menjadi Presiden. Kenapa SBY? Konon Presiden kita ini sangat peduli dengan citra diri baik itu pesona fisiknya, citra pemerintahan, dan partainya.
Sebuah pencitraan tidaklah sebuah kesalahan saat apa yang dicitrakan itu merupakan pantulan dari kenyataan. Orang akan melihat pencitraan seperti memandang sebuah kotak kaca yang berisi perhiasan. Sebuah kotak yang berisi sebuah keindahan yang nyata, bukan kamuflase, bukan pula citra semu.
Tetapi sayang, perjalanan pencitraan sekarang menuju ke arah yang sebaliknya. Pencitraan menjadi jauh lebih penting dibandingkam mewujudkan kenyataan  indah yang sebenarnya.
Perjalanan buruk pencitraan seperti sebuah virus komputer yang merajalela tak terkendali di setiap sendi kehidupan. Bukan monopoli poliTIKUS saja, tetapi seperti hal wajib bagi seluruh rakyat.
Di ruang-ruang kantor, didalam penjara cubicle, pencitraan tidak ubahnya seperti yang penting kelihatan kerja,  atau yang penting boss senang. Apa bedanya dengan ungkapan jaman dulu, Asal Bapak Senang?
Seindah dan sehalus KULIT BUAH berakhirnya di tempat sampah, dan yang dimakan adalah ISI BUAH nya.

Sunday, January 13, 2013

Menebak Kebijakan Menpora, Menyelesaikan Konflik Sepakbola



Roy Suryo yang bernama lengkap Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo, hari Jumat 11 Januari 2013 ditunjuk menjadi Menteri Pemuda dan Olah Raga menggantikan Andi Alfian Malarangeng yang mengundurkan diri karena menjadi tersangka di kasus Hambalang.

Bukan Roy Suryo kalau tidak memantik kontroversi. Latar belakangnya sebagai Sarjana Komunikasi di Universitas Gajah Mada, dan rekam jejaknya selama ini [http://id.wikipedia.org/wiki/Roy_Suryo] tidak pernah bersentuhan dengan dunia sepakbola, dimana menjadi isu panas akhir-akhir ini.

Menarik rasanya menebak arah kebijakan menpora baru ini untuk mengatasi Kudeta Sepakbola yang sudah berlangsung hampir setahun terakhir ini. Berikut ini beberapa pernyataan Roy Suryo mengenai permasalah sepak bola Indonesia:

Itu baru beberapa pernyataan Roy Suryo setelah ditunjuk menjadi menpora. Jika kita browsing situs-situs berita beberapa hari terakhir ini, topik yang diangkat Roy Suryo tidak jauh berbeda dengan ketiga pernyataan diatas.

Menariknya, dari sekian banyak pernyataan Roy Suryo tidak satupun menyebut KPSI dan ISL sebagai entitas yang ILEGAL. Dia seolah-olah menempatkan KPSI sejajar dengan PSSI, ISL dan IPL. Padahal jelas sekali FIFA menyatakan bahwa federasi yang sah adalah PSSI yang dipimpin oleh Djohar Arifin Husein.

Jika kita perhatikan pernyataan Roy Suryo di poin ketiga mengenai pelarangan kedua belah pihak menjadi pengurus PSSI, langkah ini tidaklah beda dengan saat Komite Normalisasi yang melarang George Toisutta - Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie - Nurdin Halid  menjadi Ketua dan Wakil Ketua PSSI.

Padahal jika Roy Suryo mendukung Road Map yang sudah dipersiapkan PSSI dan didukung FIFA serta AFC, kemudian menjalankan UU niscaya pekerjaan menyelesaikan Kudeta Sepakbola ini tidak akan berlarut-larut, dan bebas SANKSI FIFA.

Mari kita tunggu, apa yang akan diperbuat  Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo.












Saturday, December 22, 2012

Prof Djohar Arifin, sudahlah....

Siapakah Djohar Arifin? Sejujurnya saya tidak pernah mendengar namanya kecuali saat dia behasil menjadi Ketua PSSI menggantikan Nurdin Halid. Walaupun kata orang, Sang Profesor ini sudah berganti berbagai macam profesi, mulai dari pemain bola, wasit, dosen, hingga di Kementrian Pemuda Olahraga, tapi ya baru tahu saat dia menang.

Dikalangan lingkungan PSSI dan aktivis sepakbola, Prof Djohar ini terkenal dengan julukan "Mbah Maridjan", maklum sosok Prof Djohar dengan rambut ubannya mengingatkan kita ke juru kunci Gunung Merapi ini. 

Banyak harapan tertumpu kepadanya. Bagaimana tidak, dia didukung kubu revolusi sepakbola Indonesia yang sudah sangat gerah dengan kondisi  sepakbola Indoneaia yang rusak parah.  Dan yang ditumbangkan tidak main-main, kubu status quo yang didukung mafia sepakbola yang sudah mengakar kuat di sepakbola Indonesia.

Tidak usah diragukan lagi sholat lima waktunya Prof Djohar. Pernah saat acara buka bersama di Griya Jenggala, saat sudah masuk waktu Isya, dia bergegas ambil wudhu untuk menunaikan Sholat Isya dilanjut tarawih. Yang lain? Melanjutkan makan dan ngobrol ;)

Cukupkah hal itu menjadi Ketua PSSI yang baik?

Ternyata masih jauh dari baik. Terlihat saat dia tidak mempunyai kuasa apapun untuk mengontrol sepak terjang sekjen PSSI saat itu Tri Goestoro, yang memporak-porandakan PSSI dari dalam. Belum lagi orang-orang yang dia bawa untuk menduduki posisi penting di PSSI, dan ternyata performancenya jauh dari harapan. Contohnya, Bidang media, bagaimana bisa web resmi PSSI malah diisi opini pribadi oleh Direktur Media? Yang tenyata Sang Direktur Media ini punya ambisi untuk menjadi Anggota Legislatif di pemilu mendatang, dan menjadikan PSSI sebagai kendaraan untuk menaikkan nama dan pamornya.

Kelemahan dari Ketum PSSI sekarang ini adalah seringnya membuat MOU dengan berbagai macam pihak yan hasilnya jauh dari harapan. Pembuatan website dengan Universitas Gunadarma, yang hasilnya masih banyak yang bisa mengerjakannya  lebih baik. Kemudian, MOU tentang pembangunan tempat TC Timnas di Karawang yang sampai sekarang tidak ketahuan juntrungannya.

Jika ada gelar Ketua Federasi Sepakbola yang paling banyak melakukan perjalanan, bisa jadi Prof Djohar sosok yang pas untuk itu. Bagaimana tidak, waktu yang dia habiskan sebagai Ketum PSSI kebanyakan di atas udara, entah itu pulang kampung ke Sumatra Utara atau ke berbagai negara memenuhi berbagai macam undangan, dari tingkatan Orang Kaya Baru di daerah hingga Presiden FIFA, Sepp Blatter.

Tahukah anda bahwa semua perjalanan itu dia jalani dengan mengunakan Kelas Bisnis? Bisa anda kira-kira berapa anggaran PSSI yang dihabiskan untuk membiayai semua ini. Jika dia hanya ngantor di PSSI hanya di hari selasa.

Saya memahami jika kelas bisnis dipilih saat melakukan perjalanan jauh. Karena di kelas ekonomi jelas akan tersiksa dengan kondisi tempat yang tidak nyaman. Tetapi jika dia menggunakan Kelas Bisnis untuk segala macam perjalanan, ini yang TIDAK BISA DITERIMA.

Mumpung belum terlampau jauh, ada baiknya Prof Djohar Arifin untuk memikirkan kembali jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Berubahlah  sekarang atau Anda akan DIRUBAH oleh yang lain.

Sunday, December 16, 2012

Nil Maizar, Dari Tanah Palestina Ke Kuala Lumpur

Tanah Palestina yang sedang bergejolak, telah lama melahirkan pejuang-pejuang sejati. Anak-anak Palestina bersenjatakan batu, dengan gagah berani melawan tank-tank Israel. Tak hanya anak-anak, wanita Palestina dikenal sebagai wanita yang telah melahirkan jutaan pejuang dan syuhada. Tidak sedikit dari mereka ikut berjuang di garis depan, bersama anak dan suami.

Dari tanah para pejuang itulah Nil Maizar, menuliskan sejarah awal kepelatihannya di Tim Nasional Indonesia, bersama anak-anak muda bangsa Indonesia yang juga sebagian besar dari mereka baru merasakan kebesaran Jersey berlambangkan Burung Garuda. Bukan nama besar yang mereka miliki, tapi kebesaran semangat dan kesucian hati untuk menegakkan nama Indonesia di bumi para pejuang.

Nil Maizar itu ibarat jenderal perang yang tengah membawa pasukan untuk menegakkan panji-panji kebesaran bangsa. Kalimat-kalimat yang keluar dari seorang Nil Maizar, ibarat bahan bakar yang membakar semangat Timnas untuk tetap dalam kebersamaan, keikhlasan, dan kekompakan.

Dia seperti seorang ustadz saat menyampaikan tentang pentingnya kebersihan hati. Tidak hanya kepada pemain dia sampaikan itu, tetapi hampir ke setiap orang yang berdiskusi dengannya mengenai kondisi tim yang dia asuh. Nil Maizar seperti sedang mengaplikasikan hadits
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Dengan kondisi yang tidak menguntungkan, seorang Nil Maizar memulainya dari "apa yang ada". Kemudian apa yang bisa dibuat maksimal dari komposisi pemain yang tersedia. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulut seorang Nil Maizar. Yang keluar hanya optimisme,dan kerap kali tidak mau mengungkapkan kekurangan pemainnya di media. Cukup dia dan anak didiknya yang tahu. Tujuannya biar kekompakan tim tetap terjaga. Dan energi positif tetap ada di dalam Tim.

Sayang hal ini seringkali tidak dipahami oleh orang disekitarnya. Kekurangan seorang pemain yang tidak diungkap Coach Nil, tetapi malah diungkapkan manajemen Timnas yang lain ke media.

Bahkan tak jarang menimbulkan fitnah. Contohnya kasus Arthur Irawan, saat ada media online yang memuat seolah-olah Coach Nil merendahkan kemampuan pemain Espanyol B. Kontan ayah Arthur langsung marah dan menemui Coach Nil. Coach Nil membantah hal itu,dan bilang, "Ambil Al-quran saya bersedia bersumpah, biar orang tahu siapa yang salah dalam hal ini"

Tangannya bergetar saat menggenggam Koin sumbangan dari Suporter untuk Timnas. Bahkan suaranya ikut bergetar saat mengucapkan, "Koin ini cerminan jutaan hati masyarakat Indonesia untuk Timnas Indonesia. Bahkan dia berlinang air mata saat Indonesia Raya berkumandang dan kemudian memberi hormat ke penonton.

Sayang perjalanan Timnas dibawah Coach Nil terhenti di fase group. Kalah 2-0 dari Malaysia. Pupus juga keinginannya menuliskan sejarah sebagai pelatih Timnas Indonesia pertama yang berhasil juara di Turnamen AFF. Perjalanan Coach Nil Maizar di Timnas, masih jauh. Ada secercah harapan jika melihat pribadinya.

Semoga sukses Coach Nil !!








Saturday, December 15, 2012

Good Bye KL, We'll be back to WIN !! #AFF2012 (5-habis)

Sudah hampir sejam berlalu sejak peluit panjang dibunyikan, kami masih tertahan di luar Stasiun Bukit Jalil. Antrian token sementara ditutup karena antrian sudah panjang mengular untuk naik ke LRT.

Kami semua terdiam, sudah tidak ada gairah untuk diskusi mengenai jalannya pertandingan tadi.  Hanya perasaan kesal, lelah, dan entahlah..semua jadi satu.

Seakan jadi misteri, kenapa Timnas Indonesia susah sekali mematahkan dominasi Harimau Malaya di Bukit Jalil ini. Meskipun kita pernah mengalahkan mereka di GBK saat final Aff 2010 2nd leg, tapi rasanya dendam ini belum terbayarkan jika belum mengalahkan mereka di kandang harimau ini.

Padahal saat ini moment yang pas untuk melakukannya. Jika tadi menang, ada 2 hal paling tidak yang sangat bernilai. Yakni lolos ke semifinal, dan membuat Malaysia tersingkir. Sayang, Takdir Tuhan menentukan lain.

Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan diri jika seandainya kalah. Terutama mental, menyakitkan memang. Jauh-jauh datang ke Bukit Jalil untuk menyaksikan Timnas kalah. Tapi sejujurnya sesakit-sakitnya melihat Timnas kalah dan diejek sama suporter Malaysia, jauh lebih sakit cibiran dari teman sebangsa sendiri. Ya, begitu banyak anak bangsa yang berharap timnas kita kalah. Dan saat seperti inilah mereka seperti mendapat bahan bakar siap guna. Entah apa yang ada dibenak mereka hingga punya pikiran seperti itu.

Tapi inilah dunia sepakbola, saat ketidakpastian hasil yang membuat sepakbola itu hidup, dan menghidupi jutaan orang. Sepakbola tidak akan menarik jika kita sudah mengetahui pemenangnya bahkan sebelum pertandingannya dilakukan,

Respek yang tinggi saya haturkan untuk Coach Nil dan pemain timnas, mereka menjalani ini dengan maksimal ditengah keterbatasan. Bisa dilihat dari perjuangan mereka melawan Malaysia, terutama sebelum gol pertama terjadi. Banyak peluang untuk Indonesia. Sayang Takdir bicara lain.

Dan mereka pun seolah minta maaf dan berterima kasih kepada suporter atas dukungan yang tiada henti kepada mereka, dengan mendatangi sisi lapangan yang dekat dengan tribun penonton Indonesia yang sebagian besar sudah meninggalkan bangku dengan hati kecewa.

Perjalanan 'spiritual' ini yang pertama buat saya. Sejujurnya saya begitu menikmati setiap menit perjalanan kali ini. Meskipun hasil akhir tidak sesuai dengan harapan.

Minggu malam, 2 Des 2012,  diatas Kota Kuala Lumpur yang bermandikan jutaan cahaya lampu, saya berharap dapat kembali ke kota ini di lain waktu  dan pulang dengan senyum kemenangan.

Stadion Bukit Jalil, Catatan Perjalanan di AFF2012 [4]


Bukit Jalil, sebuah daerah perkebunan yang sekarang menjelma menjadi sebuah kompleks olahraga nasional Malaysia saat menjadi tuan rumah Commonwealth Games 1998. Berkapasitas 110.000 tempat duduk, Stadion Bukit Jalil menjadi salah satu dari 10 stadion terbesar di dunia.

Salah satu yang menarik di Bukit Jalil, terutama buat orang Indonesia, adalah adanya LRT Station. Karena hal ini tidak kita temukan di Indonesia, sebuah stadion yang terintegrasi dengan stasiun kereta.

Di Bukit Jalil station ini pula digunakan sebagai tempat syuting film Entrapment [1999] yang dibintangi oleh Sean Connery dan Catherine Zeta Jones. Cuma saat itu nama Bukit Jalil Station diganti menjadi PUDU.


Jarak antara Bukit Jalil station ke Stadion sekitar 10 minutes walking distances. Dan sesuai pesan yang kami terima, bahwa suporter Indonesia disarankan untuk tetap berkelompok, kami berjalan dari LRT Station ke stadion mengular panjang. Dan barisan semakin panjang dan banyak karena sudah banyak suporter Indonesia yang datang.

Rintik hujan sudah mulai membasahi bumi Bukit Jalil sore itu. Kami tidak hiraukan, sambil berjalan beriringan kami menuju tempat yang memang sudah disediakan khusus untuk penonton Indonesia. Katanya sih Pintu Ungu, tapi saya sendiri tidak melihat warna ungu disekitar pintu itu. Yang saya tahu, ada kertas bertuliskan "KHUSUS PENONTON INDONESIA" tertempel di beberapa tembok.

Yang membuat kami kecewa adalah khusus penonton Indonesia sejak pertandingan pertama lawan LAOS, ditempatkan di Tribun Utara alias Belakang Gawang!! Damn!!

Jelas ini diskriminasi, entah apa yang menjadi pertimbangan Panpel sehingga menempatkan kami di belakang gawang. Sedangkan penonton negara lain, misal Singapore atau Laos, ditempatkan di Tribun Barat. Apakah Malaysia bertindak demikian seolah-olah menunjukkan bahwa mereka lebih 'terhormat' dibanding Indonesia? Entahlah, karena memang TKI disana sering dipandang sebelah mata, dikarenakan jenis pekerjaan para TKI yang cenderung ke pekerjaan kasar, di kebun, sebagai pembantu rumah tangga.

Yang bikin saya tercengang adalah saat mau sholat, ternyata di dalam lingkungan stadion banyak Surau alias Musholla. Bahkan dibedakan untuk lelaki dan perempuan. Coba bandingkan dengan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yakni Indonesia? :)



Belum lagi jumlah toilet yang sangat buuanyaaaaak. Jadi inget saat nonton Timnas Indonesia vs Kamerun di GBK, saat turun minum dan pengen ke toilet. Eh begitu ketemu, buset daah... antrinya dan baunya mmmmmm sedaaapp...

Penonton Malaysia belum banyak yang datang saat itu, karena kick off memang masih lama. Waktu yang ada digunakan teman-teman untuk koordinasi membentuk koreografi. Ada teman-teman yang berinisiatif membawa RIBUAN lembar kertas, satu sisi warna merah dan sisi yang lain berwarna putih. Penonton bagian atas membawa kertas merah, dan bagian bawah membawa kertas putih.

Salut buat yang punya ide itu. Meskipun sulit untuk diaplikasikan disini. Berbeda jika yang melakukan temen-temen kelompok suporter, mereka sudah biasa dengan hal tersebut. Tapi tidak dengan suporter Timnas di Bukit Jalil.

Meskipun kurang suskses untuk koreografinya tetapi tidak mengurangi kemeriahan di tribun utara. Bagaimana tidak, paling tidak 3x kami menyanyikan Indonesia Raya padahal Kick Off pun belum :)

Belum lagi Merah Putih raksasa yang bergerak dari bawah ke atas dan sebaliknya. Bahkan tidak cuma satu, tetapi ada 3. Mantap bener ....serasa di Tanah Air saat itu.













Monday, December 10, 2012

Catatan Perjalanan Ke Kuala Lumpur #AFF2012 [3]

Menuju Bukit Jalil
Perjalanan ke Stadion Bukit Jalil sore itu kami mulai dari Stasiun Bukit Bintang. Dari beberapa akun twitter, kami mendapat informasi bahwa salah satu meeting point suporter Indonesia adalah Stasiun Bukit Bintang. Kenapa disana? Karena banyak suporter Indonesia yang khusus datang ke KL, menginapnya tidak jauh dari wilayah Bukit Bintang.

Tidak kali ini saja suporter Indonesia menginap di sekitar Bukit Bintang, tetapi juga saat Final AFF 2010 lalu. Disini memang banyak pilihan penginapan. Mau model hostel dengan sharing kamar, serta kamar mandi yang murah meriah ada. Atau mau hotel sekelas Tune Hotel seperti punyanya Air Asia juga ada. Yang lebih mahal dari pada itu juga tinggal pilih. Belum lagi pilihan makanan. Makanya banyak orang Indonesia yang memilih tinggal disini.


Dari hotel kami sudah memakai jersey merah kebanggaan. Takut karena di negeri orang? TIDAK!! Sepanjang kami berkelompok dan tidak berberbuat onar, kami tidak takut. Kami berkumpul dibawah tangga stasiun. Semakin lama, semakin banyak teman-teman suporter Indonesia yang bergabung. Dengan Jersey Merah kami memang terlihat mencolok.

Setelah hampir satu jam kami disitu, perjalanan kami lanjutkan menuju stasiun Hang Tuah, dan kemudian kami ganti kereta menuju Bukit Jalil. Di stasiun Hang Tuah ini, kami tidak langsung berganti kereta, karena kami harus menunggu suporter lain yang masih berada di Bukit Bintang, dan yang menginap di sekitar Hang Tuah.

Sambil menunggu yang lain datang, kami berinisiatif mulai bernyanyi layaknya distadion. Bisa dibayangkan...puluhan suporter Indonesia nyanyi Garuda Didadaku di tengah stasiun kereta di negeri orang!!

Kami sengaja menyanyi saat Monorail melintas dan berhenti untuk menaikturunkan penumpang. Nengok semua deh orang-orang Malaysia itu ke kita...:)

Tiba-tiba ada seseorang yang ngajak ngobrol, yang kemudian saya tahu bahwa dia seorang wartawan dari kompas.com. Ada beberapa pertanyaan yang dia ajukan. Saya pikir, ah dia mungkin lagi nyari berita pasti... eh beberapa hari kemudian baru ngeh saya kalau obrolan saat itu dimuat di --> kompas.com Ratusan Suporter Indonesia Bergerak ke Bukit Jalil

Semakin lama, suporter yang berkumpul di Hang Tuah, semakin banyak. Kira-kira lebih dari seratus orang sepertinya. Lautan merah itu akhirnya stasiun Hang Tuah. Penuh dengan suporter Indonesia.
Bangga rasanya saat itu. Kenapa? Belum tentu suporter malaysia berani melakukannya di Indonesia.

Ada juga suporter Malaysia di situ tapi minoritas. Kita sih tenang-tenang saja. Karena niat kami juga tidak memancing keributan. Bahkan saat di dalam LRT menuju Bukit Jalil, kami ketemu dengan suporter Kuning Hitam. Ribut? Hehehee, kami malah ngobrol sambil ketawa ketiwi :)

Sepertinya memang Media di Indonesia saja yang lebay memberitakan perseturuan antara suporter Indonesia dan Malaysia, seolah-olah terjadi ketegangan yang luar biasa. Buktinya tidak tuh...

Bahkan Satrio, temen dari Jakarta, mengajak Ibunya yang sudah tua ke stadion juga. Ibunya takut? Tidak tuh...aman-aman saja. Bahkan sempet diabadikan sama fotografer detik.com ini berita fotonya Suporter Timnas Berbondong-bondong ke Bukit Jalil









Sunday, December 09, 2012

Catatan Perjalanan Ke Kuala Lumpur #AFF2012 [2]


Sabtu Pagi,1 Desember 2012, hari yang sudah saya nantikan hampir setengah tahun ini akhirnya tiba. Ya, perjalanan ini memang sudah saya rencanakan sekitar bulan Agustus 2012, saat jadwal Timnas di Piala AFF 2012 dirilis panitia dan melawan Malaysia jatuh di hari Sabtu tanggal 1 Desember, tanpa pikir panjang, saya bilang saya harus berangkat ke KL untuk match ini. Berangkat Jumat pulang Minggu,sepertinya pas tidak terlalu terburu-baru. Baik itu Pre-Match maupun Post-Match nya.


TIKET
Pagi itu di lobby hotel, saya bersama Satrio dan Adi, sedang menghitung berapa tiket yang kami butuhkan. Karena ada beberapa titipan tiket dari teman yang sudah janjian dengan kami di Kuala Lumpur. Tercatat ada 15 tiket yang harus kami beli pagi ini. Akhirnya kami bertiga dengan taksi menuju ke KBRI Kuala Lumpur berburu tiket.

Dipikiran kami, wah pasti antri panjang nih. Maklum, ini pertandingan yang dinantikan banyak baik yang khusus berangkat dari tanah air seperti kami, ataupun WNI yang tinggal di Malaysia. Karena hari ini adalah hari sabtu bertepatan dengan hari libur.

Begitu sampai KBRI, eeeh ternyata tidak ada antrian sama sekali. Disediakan satu loket yang melayani pembelian tiket di hari itu. Dan untungnya tidak ada pembatasan jumlah tiket yang harus dibeli. Akhirnya 15 lembar tiket sudah ada digenggaman tangan. Kami mendengar, KBRI menyediakan 15ribu lembar tiket, dan konon semuanya SOLD OUT. Percaya sih kalau kita lihat jumlah penonton Indonesia yang datang ke Bukit Jalil. Yang konon katanya penonton Indonesia mencapai 30rb orang.

Harga tiket sebesar 30RM atau sekitar 100ribuan rupiah untuk semua kelas. Ini menarik, entah itu nonton di sisi timur atau barat, utara selatan [belakang gawang], harga sama yakni 30 Ringgit Malaysia untuk dewasa dan 10 RM untuk anak-anak.

Coba kita bandingkan dengan tiket di GBK jika ada pertandingan sekelas AFF, tribun atas semurah murahnya 50ribu rupiah. Kemudian tribun utara selatan atau belakang gawang,75ribu. Belum lagi kelas TV view alias tribun barat dan timur, bisa mencapai ratusan ribu.

Entah bagaimana panpel di Malaysia bisa menekan harga semurah itu. Apa disubsidi sama Federasi? Mungkin...

Dan menariknya jika kita membeli tiket sehari sebelumnya, kita terima tidak dalam bentuk voucher, tapi langsung dapat tiket. Hebat bener orang Malaysia tidak takut dipalsu apa ya....

bersambung ....